John Robert Badak Der Lesser's
Visited Indonesia

Annisa Gundul Pacul

234, berasap mengepul, terhisap mulut pengembara. Dia terduduk manis, diam, di sebelah kanan tukang becak, yang tertidur, pulas, di becaknya. Di depan dia, terhalang sungai, nampaklah sebuah rumah megah. Besar, bertingkat tiga,. Rumah  juragan, bukan, rumah tuhan.

(…..Tiiiiiiiiiiiiinnnn….Tiiiiiiiiiiiiiiin…)

(…..Miiiiiiimmmm…..Miiiiimmmm…)

(…..Empooottttttttt…..Emppoooottt….)

(…..Biimmmmmm…..Biiiiimmmm…..)

(…..Ubluuukkkkkk….Ubluuuuukkk….)

(…..rupanya bunyi klakson dari motor remaja-remaja sekolah menengah umroh eh umum, sangat mengagetkan makhluk hidup. Kecuali suara yang terakhir. Itu bunyi ibu-ibu yang sedang lewat (…naik vespa butut….) dan terjebak iring-iringan para remaja smu tadi).

“Air putih mas…?” sapa sang tukang becak yang terbangun dari tidur lelapnya.

“Iya, pak. (…ngiing!…gluk..gluk..gluk…). Terimakasih pak..”

“Darimana Boy?”

“Kota pahlawan buaya pak.”

“Sudah lama di sini ya?”

“Iya. Bapak koq tahu?”

“Tahu. Kan saya orang becakan. Dua kali melihat sampean tidur di depan warung internet kafe John Robert Badak Dewaruci”.

“Wow…..! serius nich pak? Di wakaf jrb-dewaruci itu tempat nongkrong saya dan teman”

“Hahaha..! beliau tertawa. (…kemphong…). Mmmm…,teman yang mana Mas? Yang saya tahu, sampean sendirian gelar tikar di situ!”

“Iyah,…ada satu teman saya di situ Pak. Sekarang sudah pergi ke Luar Negeri. Belanda.”

“Belanda…?! Sedang apa dia di sana Mas…?!”

“Sedang berjuang membentuk Keluarga. Dia dapat Wanita asli sana Pak.”

“Hmmmmm….bagus lah! Kalau niatnya begitu!”

“Warnet itu punya nama yang aneh ya Mas…?!!! Wakaf jrb-dewaruci…!”

“Hwehehehee…! Wakaf singkatan dari warnet kafe Pak. Ya teman saya itu, yang bikin nama wakaf jrb-dewaruci!”

“Ohhh…yang di Belanda itu?”

“Yoooooo’i……!”

“Luas sekali wakaf jrb-dewaruci itu Mas. Di tengah-tengah ada warnet. Samping kirinya rumah makan sederhana. Samping kanannya ada distro. Semuanya dua tinkgat. Loteng! Hmmm……!”

“Yoooooo’i……! tempat yang nyaman buat istirahat setelah menggelandang Pak. Hehehee…!”

“Hmmmm…pantesan sampean betah, sampei tidur di depan wakaf Mas.”

“Iyahh…………! Warung sederhananya itu yang bikin saya betah Pak. Makanananya enak! Mantap! Dan murah.”

“Lhoooooo……! Wong saya kadang juga makan di situ Mas. Nyamleng! Wareg tenan!”

“Lhaaaaaaa……! Kala Bapak ke situ lagi, bareng saya saja.”

“Okeh Bos……!”

“Soalnya saya kenal sama Kokinya di situ. Barangkali beliau bisa ngajak Bapak bisnis BESAR!”

“Bisnis BESAR nopo toh Mas. Saya tidak punya duit…?!”

“Lhoooooo……! Bisnis BESAR Pak. Maksudnya BESAR itu Becak Pasar. Lumayan kan kalau setiap ada belanjaan buat dapur warung bisa minta tolong sama Bapak yang ngangkut…?!”

“Lhaaaaaaa……! Cocok tenan ikie…..! warunge rame tenan lho Mas. Pendapatan narik becak saya bisa naik ikie! Hehehey…!!!”

“Naik ya naik Pak. Tar saya omongin dulu sama Kokinya. Sekalian saya ajak Bapak ke situ.”

“Mantep!! Mas!!”

“Oiya,…Mas,…Nama yang punya wakaf jrb-dewaruci ini sama dengan nama warnet bukan…?!”

“Bukan Pak……! Nama teman saya itu Donni. Dan istrinya bernama Donna.”

“Ohhh…saya kira sama dengan nama warnet!”

“Sekarang mereka berdua sudah punya anak lhoo Pak!”

“Waahhhh…….Alhamdullilah! mirip bule ya Mas…..!”

“Sangat mirip! Lha wong orang tuanya Bule Pak. Sampean kie yakopo……!”

“Hahahahahah…!”

“Sampean tahu, nama putra mereka itu Pak…?!”

“Ndak tahu Mas…..!”

“Lhaaaaaaa….yah mana tahu kan saya belum ngomong….!”

“Sampean radhi gendheng (…anda agak gila…) ya Mas…?!”

“Hahahay…!”

“Siapa nama putra mereka Mas…..?!”

“Donadoni”

“Hwaaaakakakakakak…mirip pemain biola.!”

“Lhooooo…?!”

“Eh…pemain bola Mas. Keliru ngomong saya. Hehehe.!”

“Hmmmm…”.

Senja. Suasana menjadi sedikit mencair. Sangat cepat mereka berdua menjadi akrab. Sambil duduk bersilang kaki, tukang becak ini tangannya terampil membuat rokok sendiri. Menggulung kertas rokok dengan tembakau yang ada di dalam gulungan kertas itu. Orang jawa bilang “rokok tingwe” alias ngelinting dewe.

“Sedang apa buaya mengintai rumah juragan di kota kerajaan ini?”

“Wow….! rupanya anda jeli juga pak….! Hahay….”.

(…dan mereka berdua menatap kosong rumah juragan di seberang sungai itu…)

“Anda lihat di rumah juragan itu pak. Dari pagi hingga sekarang mengantrilah manusia-manusia yang membawa uang untuk disetorkan……………!”

“Yah, Boy……..! dia memang juragan di kota ini. Hmmmmm…,mungkin juga juragan di negeri ini…”.

“Maksudnya…?? Pak…???” (…kerutan kulit jidat terlihat…)

“Hehey…! Boy! Ayo..naiklah ke becak saya. Kita keliling, melihat seisi kerajaan ini.”

“Okeh….!!!”  sambil melepas jaket kulit yang banyak robek pada lengannya. Lalu naik ke becak.

BMW (becak merah warna) melaju perlahan. Monjali terlewati, sebegitu banyak sejarah yang “dibekukan” di dalam sana, dan, terlengkapi kisah yang nyata dari mulut seorang tukang becak negeri kerajaan ini. Tetapi, tidak terlihat seperti Bandung, di sini, hanya ada beberapa perempuan Ayu sesekali terlihat lewat berpapasan.

“Namanya sampean siapa mas?”

“Gundul………….!” Panjenengan, asmanipun sinten pak? (…anda, namanya siapa pak?…)’

“Saya Pacul,………Mas Gundul!”

“Ngapunten (…maaf…) Pak Pacul, kok jarang ada gadis cantik lewat sini ya pak?”

“Hahaha…lha piye toh Mas, disini kan tidak sama dengan di Bandung!”

“Hehehe…! Sampun (…sudah…) pernah ke Kota Bandung toh Pak Pacul ?” (…guundul yang sok akrab…).

“Sampun Mas, Kebetulan anak lelaki saya yang nomor satu hidup di sana. Dapat istri cantik, dan sekarang, Alhamdulilah, dikasih momongan tujuh putra dan putri.”

“Weleh…,Wow…! Serius toh Pak Pacul?”

“Enggih toh..! Serius….!”

“Hmmmm……Amin…..!”

“Lhooo……………….?! Kok amin toh Mas Gundul……………?!”

“Lhaaa……………..…?! Yang benar bagaimana toh Pak Pacul..?!”

“Yaaah………………..!!..jawabnya…-Alhamdulillah- toh Mas…!”

“Lhooo………………..!!..Iya… Pak..,.-Alhamdulillah-..Amiin…..!”

“Lhaaa…………………!!..Nggih ngoten toh yang pas itu Mas! Muslim non muslim nggih –Alhamdulillah- kangge jawab pertanyaan ngono kuwi!. Zaman sekarang agama kan sama saja. Yang penting persatuan dan kesatuan lan njagi lati.”

“(…?????….)” gundul menggerutu dalam hati…(…”apa hubungannya?nech?!??”…)

“Wooow……………….!!…Pak,..Jangan membahas Agama donk Pak…! Hehehe…saya malu dan tidak tahu banyak, Muslim asli (…KTP…) tapi belum natih (…belum pernuh…) Sholat!”

“Lhaaaa…!!!!! Ketauan..! Kelihatan Mas, sampean tidak pernah Sholat…………………!”

“Lhooo…………………?!” (…kok bisa tahu ya???…) selalu menggerutu dalam hati.

“Wajah sampean kusut…! Seperti batu yang selalu tersentuh debu dan terik Surya! Tapi batu itu tidak tersentuh Air setetes-pun!”

Raut muka si Gundul terpaku…..! (…ini Cuma istilah. bukan nyata, muka si Gundul Di Paku…-Sakit dunk- ah pembaca ini bagaimana sich…). Mulut si Gundul Terkunci……..! (…Ini Juga istilah atau ibarat…-pembaca jangan terlalau serius dunk, tar Stress lho!-…). Ingin berkata tapi seribu ke-sungkan-an (…perasaan hormat kepada siapapun mahkluk hidup di dunia ini…). Kata-kata Pak Pacul Menyumbat mulut si Gundul yang sedang memainkan 234! Dia hanya mengepul-ngepulkan asap! Sebentar banyak! Sebentar berbentuk asap melingkar! (…Cuma sebentar, karena asap itu kan sifatnya gas, 1. ringan terbang, 2. ringan terbawa angin, 3. mudah tercerai-berai, dan 4. ringan dijinjing (..emang Laptop?!…).

(……………………Ceeeeezzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz……..!!!!!!!!!!!!!…………)

“Wahhh…Pak Pacul….!!! Ban becaknya kempas….! Eh kempes..maksud saya……………….!!!”

“Waduh…Mas! Gundul!! Kurang 50 meter lagi pas Ngampilan…………! Rumah saya………!!!”

“Terus gimana Pak Pacul…………………………….??? Enaknya…………………………..????”

“Begini saja, Saya taruh becak ini di rumah……! Percuma ditambal, sudah tiga kali ini kempes…”

“Nggih-pun Pak Pacul. Sami kulo mawon, sareng ten griyane sampean (…sama saya saja, bareng ke rumah anda…)!”

“Panjenengan kerso?! (…anda mau?!…)”

“Kerso Pak Pacul”.

“Monggo!!!”

Rupanya si Gundul menemukan sesuatu yang dia cari dalam pengembaraannya. Yaitu dimana tempat dia singgah, maka disitu harus ada sahabat! Sampailah mereka bedua di rumah yang sederhana. Berpagar tanaman. Hijau semua. Termasuk ulat ulatnya. Cat rumahnya pun berwarna hijau. Hanya pintu yang dicat warna cokelat dan berukir nama Tuhan serta Nabi Besar Muhammad Rasullulah SAW lengkap dengan syahadatnya yang di bingkai tepat di samping kanan pintu rumah.

Di depan rumah, ada papan ukuran sedang, persegi berwarna merah yang bertuliskan:  “Pak Pacul. Menerima reparasi becak, sepeda angin, dan sepeda kuno.” Di bawah papan merah itu ada papan lagi, masih berukuran sama tetapi berwarna kuning, yang bertuliskan : “Bu Pacul. Menerima jahitan, pesanan kue, dan pijat urat.” Masih ada satu papan lagi paling bawah, yang berwarna hijau, bertuliskan: “Annisa. Menerima ketikan computer dan Nge-print.” Kalau ketiga papan nama itu dilihat dari kejauhan maka nampak seperti Lampu Bangjo (…Abang Ijo/ Traffic Light…). Rumah unik tapi sederhana. Namun dalam kesederhanaan itu, tidak disangka, ada tiang beton setinggi 17 meter, dikelilingi 8 pot bunga Wawar Merah, dan 45 pot bunga Melati Putih. Tepat di puncak tiang beton itu Berkibarlah Sang Saka Merah Putih.

Belum sempat pantat si Gundul duduk di kursi depan rumah Pak Pacul ini, si Saat sudah mendahului  mengumandangkan Adzan! Tepat waktu magrib daerah setempat. Sayup sayup adzan terdengar dari masjid yang telah dilewati Pak Pacul dan si Gundul tadi. Jaraknya 23,4 meter dari rumah Pak Pacul.

“Assalamualaikum…” (…sesosok perempuan berjilbab, berkisar 26 tahun, masuk halaman  rumah dan mengucap salam…)

“Waalaikummussalam…” jawab Pak Pacul.

“Hehehee……………….” (…ini bukan jawaban salam dari si Gundul, dia cengar-cengir saja…).

“Ini Abah (…Ayah…). Annisa bawa pisang molen dari rumah teman di Kotabaru.”

“Wahh…jauh sekali Mbak…….! Kota baru Riau…….???” sahut si gundul.

“Siapa dia Abah…………….??!! Jelek banget………….! Bau lagi……..!”

“Saya Gundul mbak……………” sambil menjulurkan, eh, mengulurkan tangan.

“Saya Annisa.” Kotabaru sini Mas!  Koq Riau………….! Lagian di Riau kan Pekanbaru……….!”

“Lho…ada toh Mbak namanya Kotabaru disini…?” “nama jalan apa kecamatan Mbak….?”

“ Nama hewan Mas. Dari ordo Mamalia. Satu kelas sama kamu……! Hwkwkwkwkwkwk…..”

“Hweheheheee…”

“Sssssstttt!…ini Mas Gundul, silahkan dimakan pisang molennya. Kamu juga Niss, makan satu dulu pisang molennya”

Mereka menikmati pisang molen yang masih hangat. Kemudian Pak Pacul dan Annisa berwudlu, dan Menunaikan Sholat Magrib. Si Gundul tetap saja duduk di kursi dan menikmati pisang molen, sesekali menenggak  botol yang berisi minuman kopi yang selalu ada dalam tas ranselnya. Kopi sidikalang! Kopi yang berasal dari sumatea barat. Yang diambil oleh Gundul waktu di sidoarjo, di ruko Quick Computer temannya.

“Oooohhhhh…sungguh nikmat Kopi Sidikalang ini. Lumayan oleh-oleh dari Toko Sahabat yang sekarang sudah Tutup.” (….sendirian si Gundul menikmati kopi di depan teras rumah Pak Pacul…).

-Kuberikan bintang padamu seorang, Sbagai satu tanda rasa hati.
Bintang yang terindah, yang tak pernah pudar . Dan slalu setia menemani.

Uoo…iee…uoo…iee  2x

Kuberikan bintang padamu seorang, Sbagai satu tanda rasa hati.
Bintang yang terindah yang tak pernah pudar, Dan slalu setia menemani.

Uoo…iee…uoo…iee 2x

Sperti kupu-kupu yang berwarna-warni, Indah kurasakan saat ini.
Hasratku mengalir menyejukkan hati,  Yakin cinta suci kan abadi

Reff: Mungkin saat ini aku sedang bermimpi,
Tuk coba lalui semua jalan yang penuh…
Bunga…semerbak!

Sperti kupu-kupu yang berwarna-warni, Indah kurasakan saat ini.
Hasratku mengalir menyejukkan, Yakin cinta suci kan abadi.

Reff2: Smoga kau mengerti arti bintang yang kuberi,

Hingga kita dapat lalui jalan yang penuh…{3x}

Bunga… bersama!

Uoo…iee…uoo…iee! oi![1]

Pengamen ber-Vegan Punk boots merah warna! Mirip dengan sepatu yang dipakai si Gundul, rambut hitam lusuh gak pernah keramas, satu diantarnya ada yang ber-MOHAWK biru rambut! Punk Jalanan. Seribu style! Tapi Idealis!

(….Si Gundul merogoh saku…)

“Lagunya romantis mas. Tp Type X ya??!! Ini mas.” (…Si Gundul mengasih uang seribu rupiah…).

“Tidak usah Mas. Sungkan Kie……..! Monggo………!”

“Lho……………………………???!!! Koq ngacir.” (…Si Gundul menatap kosong pada pengamen yang melangkah pergi…).

“Mas Gundul..,kamu disuruh Abah mandi…………..!!” (…Teriak Annisa, mengagetkan si Gundul dari melamun tentang pengamen tadi…).

“Nanti saja mbak….! Lagian tar juga tidur di Hotel pasti kotor lagi…..!”

“Tidur Hotel…..??!!! Koq kotor.…??!!”

“Iya..Hotel saya kan depan wakaf jrb-dewaruci!”

“Hotel Trotoar mas!!! Ooo…pantes! Jaketnya robek robek. Digigit tikus ya!?!”

“Iya…! Masa digigit Satpol PP!”

“Mandi dulu mas Gundul. Airnya dingin. Seger!” kata Pak Pacul dari balik pintu. Beliau hanya kelihatan sarung dan kakinya. Serta kitab suci di lengannya. Rupanya beliau mau duduk di kursi tamu di dalam rumah. Akan membaca ayat ayat suci.

“Nggihpun Pak Pacul, saya mandi dulu!

“Monggo!!!”

Melewati lorong rumah yang panjang dan agak serem, maklum bangunan agak lama. Sampailah di pintu kamar mandi. Dekat dengan dapur dan sumur. Ada pawon dan gentong, persis perhiasan jambi. Jaman Bien (Jadul-Jaman Dulu). Kamar mandinya satu atap dengan rumah., bisa di bilang ini adalah Kamar dipur ( kamar mandi dan dapur).

Ada hewan besar! Loreng! Dan nempel di penyangga atap yang terbuat dari bamboo.

“Jiiiiangkrik!!!!”

“Tokek ya mas???!!!”

“Jangkrik!!! Eh! Maksud saya..Iya tokek mbak! Guude mbak!”

“Tokek ya gede Mas!! Kecil cicak! Kecilan lagi Cacing!!! Jatuh dimana mas??!!! Piye toh!?!”

“Apane sing piye mbak??!!! Untung jatuh di jedding (bak mandi) mbak!”

—–Buru-buru si gundul keluar kamar mandi tanpa baju. Dan belum melepas celana kumal-nya—-

“Saya ambil handuk dulu mbak!”

“Ambil handuk apa takut tokek?!?”

“Dua-duanya mbak!”

“Hohohohohoho…!”

“Kok hohohohoo toh mbak??!!! Opo Ono boboho?!? cengar cengir”

“Hohohohoho…”

“Pancet!”

——si gundul mengambil handuk dalam tas ranselnya. Dan kembali lagi untuk menunaikan mandi. Sangat bau ikan asin di kamar mandi. Maklum kamar dipur!!!———–

“Nggoreng ikan asin ya mbak?!? Baunya sampei sini!”

“Bukan! Ikan lumba-lumba mirip ikan asin!”

“Anyar neh sampean iku mbak?!?”

“Iya..anyar kie! Sampean laper toh mas????!!! Saya masakin ikan asin sama bikin sambel kesukaan Abah!”

“Mas..! hoy !!! kok enggak dijawab??!!! Mas Gundul..??? ra popo toh??! Hallo…!!!”

“Orang lagi gosok gigi mana bisa ngomong mbak?!!! Masa enggak denger gosok gosok!?!”

“Hohohohohohoo…”

Dari kamar dipur terdengar Pak Pacul sayup sayup melantunkan ayat ayat suci. Lengkap dengan lekukan, fasih lidah, panjang dan pendek syair ayat ayat suci itu. Sungguh suatu arransemen yang Maha Indah jika dilantukan pelan dan sayup.

Sepoi sepoi anginya masuk kamar dipur. Ventilasi ukuran besar di samping kanan dan kiri dapur. Pintu belakang dan pintu samping kanan rumah juga yang membuat udara sejuk serta angiin sepoi sepoi masuk dengan lancar.

Si Gundul keluar kamar dipur. Dan melihat meja makan sudah penuh dengan menu makanan. Mulai kerupuk, nasi, ikan asin, dan sambal bajak.

“Monggo mas Gundul. Silahkan dinikmati.” Kata Pak Pacul.

“Iya pak. Lapar nech. Monggo pak Pacul. Monggo mbak,…sareng dahar (…makan bersama…).”

“Kamu duluan saja Mas. Saya sama Abah nunggu Sholat Isya’.

“Sebentar lagi adzan”.

“Ya sudah Pak, Mbak,..Saya makan dulu”

“Monggo”

“Silahkan…..”

Si Gundul berpura-pura akan mengambil nasi. Dan, ternyata, benar, adzan Isya’ sudah terdengar. Pak Pacul dan Annisa  cuci tangan,….lalu……..,Sholat. Si Gundul tidak jadi mengambil Nasi. Alias tidak jadi makan. Dia keluar kamar dipur. Menuju ke pintu yang menghubungkan dengan halaman luar samping kanan rumah.

Gelap!

Si Gundul keluar kamar dipur menuju halaman yang gelap itu. Ada kursi reot dari rotan. Sang pengembara duduk di kursi itu dan menyulut 234-nya.

Dari luar rumah, cat tembok tembok luar nampak beda. Dalam rumah, cat tembok berwarna biru. Biru warna yang Agung. Sedangkan tembok luar rumah, berwarna abu-abu, tidak rata, ada warna putih, dan sedikit coklat bahkan ada warna hitam melingkar. Ternyata tembok luar tidak di cat. Alias itu warna asli dari batu bata campur gamping campur kapur dan temboknya ada yang bolong.

“Hmmmmm….Mantapp!” seruan pelan dari mulut Si Gundul saat menghisap 234-nya.

——-anginnya benar-benar sepoiiii….sepoiiii…dan kemudian agak kencang. Lebih menusuk ke “jaket kulit” si gundul.————-

“Nuwun Sewu…Mas. Ngapunten…Numpang lewat. Monggo…………” seorang perempuan berbaju kebaya putih dan sewek (jarik) batik motif hitam putih lewat depan Si Gundul. Tepat di depan Si Gundul, jaraknya hanya beberapa meter dari kursi rotan reot yang sedang di dudukinya.

“Inggih..Monggo Bu…” balas sapa Si Gundul.

(———————————-)

“Ehem…! Sholat kita sudah selesai Mas Gundul. Ayo dahar!” dari dalam rumah, Pak Pacul sedikit menyeru.

“Inggih pak.”

“Makan bersama kita mulai. Bissmillah. Dihabiskan Mas!” Annisa memerintah.

“Siap! Hehee!”

“Bissmillah” ucap Pak Pacul bareng Annisa.

“Ehem! Hehee….” Ucap Si Gundul berhias cengar cengirnya.

“Tidak ber-doa juga tidak apa-apa. Cuma kalau menghormati Nabi Muhammad Rasullulah maka hendaknya berdoa sebelum makan. Yaaaa…meski Cuma bismillah!” dengan sedikit alis meruncing Annisa mengingatkan.

“Okeh!!! Bismillah!” sambil cengar cengir.

“Telat mas!!!” seru Annisa.

“Lebih baik telat daripada Hiiik!!!…Hiiiik!!! …aduh!..Hiiik!!!”

“Nah. kalau makan jangan sambil bicara. Hihiihi….” Annisa tertawa kecil.

Sama juga dengan kota pahlawan buaya, di sini, cuaca kadang mendung, kadang hujan lebat. Kalau di bandung, sudah terjadi hujan es. Di aceh, hujan teroris. Di banten, hujan peluru. Namun yang paling kerap terjadi di negeri ini, adalah hujan tangis dan bunuh diri. Entah. Karena memang ada yang sengaja memakai system ekonomi yang menckik kerakyatan atau oknum pelaksana lapangan yang selalu “ngutil” dan minta “jatah” sana sini, padahal mereka sudah punya gaji. Pasti masih ada kecurangan kecurangan yang dilakukan di semua instansi di negeri ini. Alas an mereka, para “pengutil” ini sama, yaitu: “gajinya kecil” mas. Coba kalau mereka berpikir luas. dari gaji kecil itu toh bias dibuat untuk usaha kecil-kecilan, yang penting halal. Halal ini penting, karena bukannya para oknum itu juga menghidupi keluarganya dari gaji dia kerja. Coba pikirkan baik baik, mau jadi apa keturunannya memakan “hasil kutil” dari sesame saudaranya.

Ingat sedikit kata pepatah jalanan yang ada di seluruh negeri ini. Bahwa, kita ini sama satu bangsa, satu suara : Indonesia Merdeka. Pangkat dan jabatan kita semua hanya ada dalam kantor. Susunan kerja di kantor dan sytem yang ada di sana, sangat penting dan berlaku spontan jika pangkat dan jabatan itu dipakai di sana. Steleah keluar ruangan kantor, bahkan jam istirahat, seharusnya kita sama. Rakyat Indonesia. Seberapa besar iman manusia untuk menolak perbuatan kutil mengutil?! Itu tergantung pada jiwanya seseorang, apakah bias mereka melupakan kesombongan! Kesombongan itu ibarat dari pangkat dan jabatan yang mereka sandang di kantor, tetap mereka pakai dalam kehidupan berbangsa. Artinya, mereka orang yang berpangkat dan punya jabatan itu akan menjadi somobng apabila masih di luar kantor tetap “merasa” memakai pangkat dan jabatan itu..

Dalam buku Isalam Kontempore karya mohammed arkoun disebutkan,. Bahwa, Nabi Besar Muhammda Rasullulah SAW, melepaskan jabatan beliau sebagai Nabi ALLAH dan Nabi umat Islam saat berdialog antar umat beragama. Waktu itu ada kegiatan berdialog antar pemuka agama entah di makkah atau maddinah, sang penulis lupa, karena bukunya sudah dipinjamkan entah ke siapa. Semoga mereka mengamalkannya. Nah, itu contoh yang diterapkan Baginda Nabi. Coba bayangkan, seoarang Nabi mampu meletakkan jabatannya demi berlangsungnya suatu dialog, agar terlihat Netral. Tidak memihak. Dan tidak ada kesombongan. Presiden memang tidak bias serta merta neletakkan jabatannya, karena hal ini membahayakan. Ini jika diartikan dalam system pemerintahan.namun ambilah contoh pada Presiden Iran, Mahmud Achmadinejad. Beliau memang presiden Iran, namun ketika beliau memberi kuliah umum di salah satu Universitas di Inggris, maka waktu “mengkuliah-i” maka posisi beliau disebut sebagai dosen umum.

Bukan selalu menggerutui psrs oknum di suatu instansi, tetapi, memang kinerja mereka patut dipertanyakan. Selalu molor dan seperti semrawut berjalan tanpa system. Penggunaan istilah Good Government yang ada dalam buku kuliahan tidak serta merta bias diterapkan dalam lapangan. Entah mereka memang tolol atau mereka sengaja berpura pura untuk meng-blue-print-kan istilah itu dalam lapangan padahal kosong karena mereka tidak sadar apa isinya. Aneh. Seribu opini tidak akan selesai ditulis disini untuk mengkritisi, sebab yang dikritisi sudah tidak mau peduli.

Peng-ibarat-an ini ada pada pengalaman gembel jalanan, yang kebetulan pernah bertemu dengan penulis di suatu pelabuhan penyebrangan. Si Gundul. Dia datang dari keluarga berkecukupan. Ayah adalah seoarang PNS. Dari sini dia mengerti betul kinerja PNS itu. Asal datang, tandatangan, lihat jam, makan, mikir proyek yang akan di mark up. Lalu apa yang dikerjakan? Hanya mengeti! Entah apa yang diketik yang kemudian diserahkan ke petugas lapangan. Yang sebelum diterima pada petugas lapangan, kertas yang diketik itu melayang selama sepuluh tahunan, entah melayang kemana arah!. Itu terjadi pada jaman dulu. Percuma suatu pemerintahan baru menggeser pemerintahan lama, jikalau tetap sama tugasnya, yaitu memperlebar jarak meja birokrasi dan menambah-nambahkan lembaga-lembaga, department-departement, tanpa tahu dan tanpa mempelajari: “dimana letak kelemahan sehingga mudah terlambat dan molor!”. Buset!

Lihatlah para pendidikan kedokteran. Montang manting belajar, morat marit bawa bungkusan makan siang, hanya demi untuk belajar ilmu kedokteran yang sulit! Setelah mereka berhasil jadi dm, mereka masih montang manting praktek di rumah sakit, masih dalam mengejar ilmu dokter yang pasti sebelmu mereka diterjunkan jadi dokter beneran! Namaun setelah jadi dokter beneran, mereka tidak sampai hati melihat system administrasi yang dipakai oleh rumah sakit setempat! Bahkan rumah sakit yang tersebar di seluruh nusantara ini. Apa benar negeri ini mebunuh oaring orang “suci otak” sperti mereka?!.

Si gundul tidak mau menelateni ilmu bapaknya yang pernah menjadi PNS di kota pahlawan buaya, karena itu adalah ilmu yang kosong! Dia lalu mencoba menjadi pegawai di perusahaan, yang dia dapat hanya capek! Hati nuraninya capek menuruti paksaan waktu. Dia bekerja mulai dari jam 08.00 istirahat jam 12.00-13.00, dan pulang kantor jam 17.00. apa yang dia lakukan dalam sisa waktunya?! Tidur! Karena capek! Hanya satu yang dikhawatirkan olehnya jika kegiatan ini terus menerus terjadi. Yaitu, tidak ada waktu romantis untuk menikmati kehidupan ini. Maka jalan yang dia ambil adalah freelance, dan tetap bias menikmati luasnya nusantara ini sampei dinginnya Negara Adolf Hitler! Frankfurt Am Main – Germany!!! Dalam dunia freelance, ada kebebasan waktu, kebebasan bicara dan mengumpat bos! (walau tetapi hanya dilakukan lewat telephone).

“Hmmmm…nikmat sekali sambalnya, pak pacul. Hehe” kebiasaan cengar cengir terjadi lagi.

“Siapa dulu yang bikin sambal mas. Annisa gitu lho!” bergaya manja si putri pak pacul ini. Maklum memang umurnya masih muda.

“Wew..Gaul juga jawabnya nech!”

“Iya,…saking gaulnya sampei sampei pernah dilamar anak pengamen Punk jalanan mas.” Seru pak pacul.

:Lho???!!! Benarkah mbak annis???”

“Yaaaaaaa…gitu dech!”

“Ceritain tuh sama Mas Gundul Niss, share, sapa tahu mas gundul ngerti masalahmu. Toh tampang mas gundul sperti itu juga! Hahahaha! Penjelasan pak pacul disertai seringai siung giginya yang kelihatan kalau ketawa.

“Persis Vampire pak pacul!”

“Maksudnya mas???” Tanya pak pacul.

“Ohhh….endak pak, ini lho saya sms temen saya yang orangnya persis Vampire!”

“Oo…”

(—————————————————–)

Biarkan sangkar burung terikat lengket di antara cabang pohon. Karena di situ hidup damai anak anak burung yang masih belum bisa terbang mencari makan sendiri.

Ular berbisa di hutan pasti memetikan apabila menggigit kaki seorang manusia. Tetapi jika manusia itu adalah manusia yang “ahli dan mengerti” maka ular berbisa-pun tidak dapat mematikannya apalagi menggigit.

Lebih mudah menghadapi “singa” di jalanan. Daripada menghadapi singa di hutan.

Inti dari semua imajinasi kata di atas adalah : hati-hati. Hati-hati bukan berarti gampang mencurigai, tetapi lebih condong ke sifat rasa nurani. Hati-hati mempunyai kata dasar Hati. Sedangkan hati adalah organ yang terpenting dalam diri manusia yang kadangkala diisi dengan siraman rohani atau pengalaman “ilmu pasti”. “Ilmu pasti” adalah PASTI!

Makan bersama usai. Pak Pacul dan Annisa melanjutkan dengan acara mengaji. Pak Pacul menjelaskan kalau di rumah itu tiap hari kamis malam selalu mengadakan pengajian. Tidak pengajian ramai-ramai, namun hanya mereka berdua. Merasa bisa mengaji sedikit, akhirnya Si Gundul ikut berwudlu dan membuka acara pengajian sederhana itu dengan satu ayat. Ayat pada halaman pertama kitab suci Islam.

“Alhamdullilah….!!!” Pak Pacul Dan Annisa berseru bersama.

“Ada apa Pak……?!! Ono opo toh Mbak….?!! Koq bareng Alhamdullilah?!” ucap Si Gundul.

“Bisa mengaji. Kenapa tadi bau minuman keras waktu bertemu Saya?!” jawab Pak Pacul.

“Benarkah Abah…?!! Mas suka mabuk…?!!” Annisa sedikit kaget ekspresinya.

“Lhoooooooo……?!! Anda Tanya Saya…?!!” jawab Si Gundul.

“Enggak! Kita nanya sama setan!” Annisa (tumben) agak sinis tap agak senyum.

“Wow…! Kalau begitu Anda nanya pada setan yang tepat. Hwikikik…! Si Gundul cekikian.

“Benar kata Abah Mas…?!”

“Yoooooo’ii…”

“Dasar………!”

(…..Tuiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiinnnnngggggggg……..Tuiiiiiiiiiiiiiiiiiing…………………)

“Eh…sebentar ya hape saya bunyi.” Annisa terburu-buru pergi mengambil hape di kamarnya.

“Assalamualaikum….”. sapa pembuka Annisa.

“Hey Niss. Umi sudah pulang…?!”.

“Belum Kak. Sebentar lagi. Mungkin setengah jam lagi. Katanya masih ada rapat.”

“O..ya..sudah Niss, nanti Kakak saja yang jemput!”

“Iyahh Kak. Jangan lupa bawa makanan, ada tamu di rumah”.

“Ehh..siapa Niss…???! Pacar Punk Kamu ya..??! hayooo…?!!”

“Pacar siapa Kak..?!! enak aja! Bukan dia, tapi ada orang gila, hehehe, jadi tamunya Abah.”

“Hahh…yang bener aja lu Niss. Masa Abah punya temen gitu…”.

“Tau tuh Abah. Kakak langsung dari Jakarta terus Kesini nich critanya? Dah nyampei mana Kak?!”.

“Kaliurang. Iyahh. Kangen ma semua. Kok jadi penasaran juga sama tamu Abah..?”

“Makanya kesini. Jangan buru-buru, dia gak punya rumah koq. Mo nginap di sini katanya”.

“Wahh..Asyik nech. Cowok pa Cewek..??!”

“Wahh..Kakak ini. Masa tamu Abah Cewek..?!”

“Hahay…! Iya juga yahh! Ya udah salam ja ke dia. Salam Metal”.

“Emang. Cocok sama Kakak orangnya sama! Gila!”

“Hahaha..! ya udah Kakak udahan dulu nelpon.’

“Tar Kak…,Abah mau ngomong.”

“Okeh!”

“Hehh!! Ande-ande lumut ku yang lumutan, gak kawin-kawin! Kalau pulang jangan bawa makanan melulu! Sekali-kali, Abah ini dibawain oleh-oleh Gadis Idaman Mu Le…!”

“Nahh..Abah. kali ini kesempatan saya bisa ngenalkan dia Bah. Bener saya bawa oleh-oleh Istimewa buat Abah!’.

“Alhamdulillah……! Terharu Abah mu ini Le…! Mau nangis tapi gak bisa. Soalnya Abah kan laki-laki!”

“Ahh…Abah ini, orang saya lagi serius, Abah Malah bercanda!”

“Hehehehe…! Oiya..Le. adik mu yang di Bandung katanya gak bisa ikut kamu ke sini ya?”

“Iyahh Bah. Kemarin udah nelpon. Ada acara penting kata dia. Makin sombong amat tuh anak!”

“Bukannya sombong le. Emang dia ada keperluan penting. Istrinya kan Hamil tua toh”.

“Iyahh sich Bah. Lagian dah punya 7 putra dan 7 putri, masih aja “perang 45”. Hihiii”.

“Lha kamu kapan “perang 45” Le…?!”

“Yahh nanti bis nikah Bah. Lihat dulu calonnya. Barangkali Abah sama Umi gak setuju”.

“Lhoooo…piye toh! Kan yang kawin kamu. Kok Abah sama Umi ikut milih??”

“Yahh bukan gitu Bah. Entar aja dach Bah Saya critanya yahh. Lebih enak”.

“Yo wis. Ati-ati on the way sama mbak titi dj”.

“Okeh..!”

“Tuut..tuut..tuut…tuut..tuut” telepon tertutup tanpa salam.

*…bersambung….

Advertisements

No Responses to “Annisa Gundul Pacul”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: